Dari Alumni untuk Adik Kelas, Kuliah di Rusia Bukan Lagi Sekadar Mimpi


MAN 2 Kota Bekasi - Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Bekasi menyelenggarakan Talk Show Interaktif "Strategi Jitu Tembus Perguruan Tinggi Luar Negeri (PTLN)" Tahun Ajaran 2026/2027 pada Jumat (2/10/2026) di Aula MAN 2 Kota Bekasi, bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional. Kegiatan bertema "Dream Big, Study Further: Turn Your Ambitions into Reality" ini dimulai pukul 13.00 WIB dan ditujukan bagi siswa kelas XII.

Kegiatan ini bertujuan memotivasi siswa, memperluas wawasan, dan menumbuhkan rasa percaya diri dalam bidang akademik maupun karier, sehingga peserta didik berani bermimpi dan mempersiapkan studi lanjut hingga ke luar negeri.

Acara diawali dengan registrasi peserta, lalu dibuka oleh MC Sri Wulandari, S.Pd. Seluruh peserta kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Madrasah.

Dalam sambutannya, Wakil Kepala Madrasah Bidang Hubungan Masyarakat, Sahrul Anwar, S.Ag., M.Pd., menyampaikan harapan agar kehadiran Muhamad Febri Hidayatullah dapat memberikan manfaat bagi siswa kelas XII. Doa yang dipimpin Ahmadi, S.Pd. kemudian mengiringi dimulainya sesi inti yang dipandu moderator Achmad Nursyahid, M.Pd.

Narasumber yang dihadirkan adalah Muhamad Febri Hidayatullah, alumni MAN 2 Kota Bekasi angkatan 2021. Saat ini ia menempuh studi Hubungan Internasional di Kazan Federal University, Rusia, sebagai penerima Beasiswa Pemerintah Rusia 2023 dan Beasiswa Baznas 2025. Febri juga dipercaya sebagai Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Rusia periode 2025/2026 dan merupakan pendiri kampusmimpi.id. Kehadirannya memberi gambaran nyata bagi para siswa bahwa studi di luar negeri dapat dicapai oleh lulusan madrasah sendiri.

Dalam sesi tersebut, Febri memaparkan materi "How the Russian Education System Works: Insights from Indonesian Students", yang disusun oleh Patricia Leong dari Departemen Pendidikan dan Keilmuan Rusia (DPKR) Permira, organisasi pelajar dan mahasiswa Indonesia di Rusia.

Jenjang Pendidikan di Rusia

Siswa diperkenalkan pada jenjang pendidikan Rusia, mulai dari Detskiy Sad (setara TK) untuk anak usia sekitar 3 sampai 6 atau 7 tahun, Nachalnaya Shkola (setara SD) di kelas 1 sampai 4, hingga Osnovnaya Shkola (setara SMP) di kelas 5 sampai 9 yang ditutup ujian negara OGE.

Setelah itu, siswa dapat melanjutkan ke Srednyaya Shkola (setara SMA) di kelas 10 dan 11 dengan ujian akhir EGE sebagai ujian masuk universitas, atau ke College/Teknikum, pendidikan vokasi setara SMK selama 2 sampai 4 tahun.

Di perguruan tinggi, tersedia Bakalavriat (S1) selama 4 tahun, Magistratura (S2) 2 tahun, dan Aspirantura (S3) 3 sampai 4 tahun. Ada pula Spetsialitet selama 5 sampai 6 tahun, model lama Rusia yang setara gabungan S1 dan S2 pada bidang tertentu seperti kedokteran.

Tahun Persiapan bagi Mahasiswa Internasional

Mahasiswa asing umumnya mengawali studi dengan Preparation Year atau Podfak selama sekitar 9 sampai 10 bulan untuk belajar bahasa Rusia dan mata pelajaran dasar. Program ini tersedia di kota-kota seperti Moskow, Saint Petersburg, Tomsk, dan Kazan.

Sistem Perkuliahan yang Berbeda

Satu tahun akademik terdiri dari dua semester, yaitu September sampai Januari dan Februari sampai Juni. Di akhir semester, mahasiswa menjalani zachet (tes dengan hasil lulus atau tidak lulus tanpa nilai angka) atau ekzamen (ujian). Jika belum lulus, tersedia ujian ulang dan, bila perlu, sidang komisi. Mahasiswa yang aktif hadir atau bernilai cukup juga dapat lulus tanpa ujian melalui sistem avtomat.

Kelas terbagi menjadi lecture yang umumnya satu arah, seminar yang berisi diskusi dan presentasi, serta praktikum untuk jurusan sains dan teknik. Penilaian memakai skala 2 sampai 5, dengan nilai 3 sebagai batas lulus. Tugas meliputi PR rutin, presentasi, esai, dan kursovaya rabota, yaitu proyek penelitian tertulis mandiri yang biasanya dikerjakan setiap tahun. Ujian paling umum dilakukan secara lisan.

Di akhir paparannya, Febri menitipkan dua pesan untuk adik-adik kelasnya. Pertama, pentingnya fokus pada satu hal agar semuanya berjalan dengan baik. Pesan itu ia sampaikan lewat peribahasa Rusia yang populer, yang bermakna bahwa orang yang mengejar dua kelinci sekaligus tidak akan mendapatkan satu pun. Pesan ini mengajak siswa menentukan prioritas dan menekuni satu tujuan hingga tuntas, termasuk dalam mempersiapkan studi ke luar negeri.

Kedua, Febri mengajak siswa untuk menghilangkan budaya telat. Kedisiplinan waktu, menurutnya, merupakan kebiasaan yang perlu dibangun sejak dini sebagai bekal menghadapi kehidupan akademik, termasuk di perguruan tinggi luar negeri.

Usai pemaparan, siswa mengikuti sesi tanya jawab dan kesimpulan yang dipandu moderator. Melalui kegiatan ini, siswa kelas XII diharapkan memiliki gambaran awal tentang jenjang pendidikan dan budaya belajar di Rusia, sekaligus termotivasi untuk fokus, disiplin, dan sungguh-sungguh mewujudkan cita-cita studi lanjut seperti yang telah dilakukan kakak alumninya.

Acara ditutup oleh moderator Achmad Nursyahid, M.Pd. Pesan penutup beliau melengkapi ajakan Febri tentang disiplin waktu: siswa diingatkan untuk menepati waktu, namun tidak berkecil hati bila sesekali tertinggal. Beliau menyampaikan, "Keterlambatan bukan sebuah kegagalan, tapi waktu untuk kita menyiapkan kekuatan."

 

0 Komentar